Politikus Harus Berdada Lapang

Pesta demokrasi di amerika serikat berakhir sudah. Perolehan suara yang didapatkan Barack Hussein Obama dari Partai Demokrat 359 dari 538 suara yang ada. Itu membuat Obama terpilih sebagai presiden dengan kemenangan mutlak dari saingannya John McCain.
Drama perseteruan para kandidat calon presiden negara adidaya tersebut menyedot perhatian dunia. Saling hantam dalam kampanye politik merupakan hal yang biasa. Pemandangan persaingan politik seringkali mempertontonkan adegan saling cela dan melecehkan, itu terjadi dihampir seluruh negara yang mengadakan pemilihan pemimpinnya secara demokratis.
Namun, cerita panjang pemilihan pemimpin negara super power tersebut berakhir manis. Orang-orang yang kalah dalam persaingan rela berbesar hati untuk kemudian mendorong “sang terpilih”. Lihat saja, sikap dari Hillary Clinton yang bersaing dengan Obama di bursa calon presiden yang diusung Partai Demokrat. Ia giat membantu mensukseskan kampanye Obama setelah kalah dalam persaingannya untuk menjadi calon presiden yang diusung partainya. Bahkan, McCain saingan Obama dari Partai Republik menunjukkan sikap yang sama ketika ia tidak berhasil terpilih menjadi presiden negaranya. “mari kita lupakan perseteruan sepanjang masa kampanye. Saat ini kita harus bersama-sama membantu presiden yang dipilih rakyat” ungkapnya yang dilansir berbagai media.
Hal ini merupakan perilaku politik yang harus diadopsi oleh para politikus di tanah air kita. Sikap legowo dan berlapang dada menerima kekalahan dalam persaingan politik yang digelar masih jarang diperlihatkan para politikus Indonesia. Kita lebih sering ditunjukkan sikap ambisius untuk mendapatkan kekuasaan dalam arena pertarungan politik negeri ini.
Beraneka macam cara dilakukan oleh kebanyakan politikus negeri kita untuk mendapatkan kekuasaan yang diimpikannya. Merekalah para politikus bermental “the end justifies the means” ala Machiavelli (1513). Akhirnya, kita lebih bisa melihat hasrat berkuasa yang lebih menonjol dibandingkan dengan kualitas kepemimpinan mereka.
Perang politik di negeri ini seakan tak mengenal waktu. Pola pikir yang dibentuk politikus adalah tiap saat adalah masa kampanye, tiap saat adalah masa perang politik. Setiap langkah yang diambil lawan politiknya selalu menjadi hujatan walaupun bukan lagi dalam kampanye. Aroma penggulingan kekuasaan, ataupun sekedar menurunkan pamor lawan politik yang berhasil mengalahkannya dan terpilih menjadi pemimpin negara sangat semerbak.
Tontonan tersbut mempengaruhi sikap politik massa. Rakyat yang makin cerdas juga semakin enggan untuk memilih politikus yang bermental Machiavellinis. Akhirnya, sikap politik tersebut membuat masyarakat kian apatis terhadap politikus atau bahkan politik. Kiranya sikap politik yang ditampilkan para politikus Amerika yang kalah bertanding juga harus menjadi contoh bagi politikus di Indonesia.

Denny Mahardy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s