Kesehatan

DIABETES BERUJUNG CUCI DARAH


Diabetes merupakan salah satu penyakit dengan jumlah angka penderita yang sangat besar di Indonesia. Apa saja penyebabnya?

Diabetes melitus atau yang lebih dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit degeneratif yang memerlukan upaya penanganan yang tepat dan serius. Dampak yang harus ditanggung jika tidak segera ditangani adalah munculnya penyakit jantung koroner, stroke, disfungsi ereksi, gagal ginjal, dan kerusakan sistem saraf.
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang timbul akibat kadar gula darah yang tinggi. Kadar gula darah tinggi itu disebabkan ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin atau penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin. Gula darah dapat meningkat karena makanan, stres, sakit, dan obat-obatan tertentu.
Angka prevalensi penderita diabetes tanah air berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes) pada tahun 2008 mencapai 5,7% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 12 juta jiwa. Yang mengejutkan, angka prevalensi pre-diabetes mencapai dua kali lipatnya atau 11% dari total penduduk Indonesia. Berarti, jumlah penduduk Indonesia yang terkena diabetes akan meningkat dua kali lipat dalam beberapa waktu mendatang.
“Angka jumlah penderita dan pertumbuhan nasional memang sekitar 5,7 %, tapi angka di tiap daerah variatif. Angka tertinggi untuk pertumbuhan daerah ada di Maluku Utara, Tidore 11,4% dan Ternate 19,7%,” Ungkap Direktur Institut Diabetes Indonesia (INSIDA), Prof. Dr. dr. Sidhartawan Soegondo, SpPD-KEMD, DTM&H, FACE.
Ia pun menambahkan bahwa angka jumlah penderita diabetes di Indonesia memiliki peluang untuk terus bertambah. Gaya hidup sehari-hari masyarakat Indonesia sangat potensial untuk terkena ataupun mencetuskan diabetes yang memang sudah ada dalam tubuhnya. Selain itu, diabetes merupakan penyakit yang bisa ditularkan secara keturunan.
“Diabetes kan penyakit yang genetik bisa dikatakan tidak sembuh. Nah, kalau orang tuanya ada diabetes 90% keturunannya bisa kena juga. Tetapi bisa muncul atau tidak tergantung si anak bisa apa tidak jaga kesehatan. Kemudian gaya hidupnya dekat dengan faktor pencetus apa tidak,” papar Sidhartawan Soegondo yang juga pemilik SS Diabetes Care.
Faktor pencetus diabetes melitus, antara lain, adalah kurang gerak, makan berlebihan, kehamilan, dan kekurangan produksi hormon insulin. Diabetes tidak dapat disembuhkan, tetapi kadar gula darah dapat dikendalikan sehingga berbagai komplikasi dapat dicegah.

Gagal Ginjal dan Diabetes

Kadar gula darah yang tidak terkontrol pada pengidap diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Salah satu kondisi buruk dan mahal ialah gagal ginjal yang menyebabkan pengidap terpaksa cuci darah.
Di dalam ginjal terdapat jutaan pembuluh darah kecil yang berfungsi sebagai penyaring guna mengeluarkan produk sisa dari darah. Kadar gula darah yang tinggi membuat ginjal menyaring terlalu banyak darah.
Setelah beberapa tahun, sistem penyaring akan bocor sehingga protein keluar di urine. Kerja ginjal yang berat tersebut menyebabkan ginjal kehilangan kemampuan menyaring darah sehingga terjadi gagal ginjal. Kontrol terhadap gula darah dan tekanan darah akan memperkecil kemungkinan kerusakan ginjal.
“Kalau ginjal sudah tidak bisa menyaring protein dari putih telur berarti fungsi ginjalnya sudah menurun,” papar Spesialis Ginjal RS PGI Cikini, Prof. dr. H.M.S Markum, SpPD-KGH.
Diabetes tercatat sebagai faktor pendukung terbesar penyebab Gagal Ginjal. Orang yang mengidap gagal ginjal selama lebih dari 10 tahun potensial untuk komplikasi dengan gagal ginjal sebesar 30%.
Selain itu, gagal ginjal tidak memperlihatkan gejala tertentu jika ditambah lagi dengan pasien tidak rutin cek ke laboratorium. Hal tersebut yang mengakibatkan terlambatnya pasien diketahui semakin sulitnya penanggulangan yang seharusnya dilakukan.
“Orang yang mengidap diabetes lebih dari 10 tahun memiliki potensi untuk komplikasi dengan gagal ginjal,” ujar Markum lagi. Ia pun menambahkan kebanyakan penderita diabetes tidak menyadari bahaya yang sedang mengintainya tersebut.
Hal senada diungkapkan oleh Sidhartawan Soegondo, “Memang diabetes merupakan faktor pendukung terbesar gagal ginjal saat ini. Tapi diabetes ke gagal ginjal itu perlu proses lama. Nah, kalau pasien diabetes bisa sampai ke tahap gagal ginjal sebagai bukti bahwa dokter spesialis dan obatnya sudah bagus berarti,” seloroh salah satu Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut.

Pentingnya Edukasi

Sering kali, individu pre-diabetes merasa bingung untuk mencari informasi dan pencegahan yang tepat. Pada akhirnya, sebagian besar dari mereka melalui fase diabetes.
Asril misalnya, pria berusia 54 tahun yang merupakan salah seorang yang telah mengidap diabetes 20 tahun. Ia mengakui kesulitan mendapatkan informasi pencegahan diabetes dan cara mengontrol gula darahnya yang sering naik turun.
“Susah sekali untuk dapat info tentang kontrol gula dan pencegahan buat anak-anak saya yang kemungkinan diabetes juga. Kalaupun mau dapat info harus ke dokter, sekalian konfirmasi isu yang ada di masyarakat seputar obat dan pantangan,” ungkap Asril.
Asril bisa dikategorikan sebagai penderita diabetes yang aktif. Tidak banyak penderita diabetes yang melakukan hal serupa. Hal itu yang menjadi salah satu kendala penanganan diabetes. Pengidap, misalnya, beranggapan, mengonsumsi yang pahit-pahit, seperti brotowali, pare, atau buah mengkudu, akan melawan diabetes.
Sering kali setelah mengonsumsi bahan-bahan itu pengidap lalu tidak melakukan kontrol lagi terhadap penyakitnya. Persoalan lain ialah kepatuhan pengidap yang rendah. Setelah tidak ada gejala, kemudian pola hidup pengidap kembali buruk.
Edukasi itu memberitahu hal-hal yang tidak diketahui pasien. Meliputi bagaimana menjaga pola makan dan melakukan senam secara rutin. Edukasi juga menghindarkan penderita dari stres karena larangan-larangan yang berasal dari orang-orang yang tak memahami benar diabetes.
“Edukasi kan sama dengan nasehatin orang. Mereka dengar tapi kan sulit untuk mengubah pola pikir dan gaya hidup yang sudah dilakoni mereka sejak lama,” tungkas Sidhartawan.
Masalah kultur dan pola pikir merupakan hal yang terkait. Bedanya, pola pikir terbentuk dari lingkungan atau kultur. Bila lingkungan atau kultur memahami betul masalah diabetes maka akan berimplikasi pada pola pikir yang baik bagi pasien.

Penulis : Denny Mahardy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s