Kesehatan

BERAT BADAN INTERDIALISIS


EFEK KELEBIHAN CAIRAN

Hipertensi dan gagal ginjal sangat berkaitan erat. Hipertensi mungkin sebagai penyakit primer dan menyebabkan kerusakan pada ginjal, sebaliknya penyakit ginjal kronik dapat menyebabkan hipertensi atau ikut berperan pada hipertensi melalui mekanisme retensi natrium dan air.
Terjadinya hipertensi disebabkan oleh ketidakmampuan ginjal mengeluarkan jumlah cairan dan garam yang cukup dengan tekanan darah yang normal. Akibatnya terjadi penumpukan cairan yang dapat meningkatkan tekanan darah.
Dalam perkembangan penyakit ginjal kronik, kemampuan ginjal untuk mempertahankan keseimbangan volume cairan tubuh menjadi terganggu dan menyebabkan perubahan volume cairan tubuh. Keadaan ini makin nyata pada penderita penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di mana terjadi fluktuasi status volume cairan tubuh dan konsentrasi elektrolit plasma yang sangat tergantung pada jumlah cairan yang diminum dan fungsi ginjal yang tersisa. Oleh karena itu mempertahankan sirkulasi volume darah yang efektif dan optimal sangat diperlukan untuk menghindari komplikasi sirkulasi.
Kelebihan volume selain akan menyebabkan hipertensi, juga dapat terjadi edema paru (cairan di dalam paru), yang meningkatkan terjadinya kegawatan hemodialisis, dan meningkatkan resiko pembengkakan dan dan penebalan jantung sebelah kiri (LVH).
Hipertensi yang terjadi dapat pula disebabkan karena kelebihan garam ataupun hyperkinetic flow yang disebabkan hemoglobin yang di bawah kadar normal (=anemia).
Guyton berpendapat bahwa dominannya fungsi ekskresi (pengeluaran) ginjal terhadap pengaturan tekanan darah. Bila tekanan darah meningkat maka pengeluaran akan melebihi masukan dan volume cairan tubuh akan menurun sehingga tekanan darah akan kembali pada posisi awal. Bila tekanan ini di bawah nilai awal tersebut maka pengeluaran menurun sehingga pemasukan melebihi pengeluaran, dan tekanan darah akan kembali ke nilai awal ataupun nilai imbang. Kemampuan ginjal untuk mengembalikan tekanan darah ke nilai imbang berjalan secara dinamik antara pemasukan dan pengeluaran dan merupakan ciri sistem kendali tekanan darah. Keadaan ini dipengaruhi juga oleh sistem neurohumoral, genetik, kelainan ginjal yang mempengaruhi kemampuannya mengeluarkan cairan dan garam.
Terjadinya hipertensi karena ketidakmampuan ginjal mengeluarkan cairan dan garam yang cukup dengan tekanan darah yang normal. Akibatnya adalah penumpukan cairan yang menyebabkan peningkatan tekanan darah.
Pada penyakit ginjal kronik terjadi penurunan jumlah urin yang dikeluarkan. Dan selama proses hemodialisis terjadi penarikan cairan 1-4 liter selama 4-5 jam. Oleh karena itu kepatuhan pasien dan efisiensi hemodialisis sangat dibutuhkan untuk mencegah kelebihan volume cairan tubuh.
Gejala kelebihan cairan seperti tekanan darah naik, peningkatan frekuensi nadi, dan frekuensi pernafasan, peningkatan tekanan vena sentral, dispnea (sesak), batuk, edema (bengkak), penambahan berat badan berlebih sejak dialisisterakhir.
Tubuh orang dewasa 50-60%nya adalah air. Kandungan air di dalam sel lebih rendah daripada kandungan air di dalam sel otot, sehingga cairan tubuh total pada orang yang gemuk lebih rendah daripada orang yang tidak gemuk.
Secara kasar patokan yang dapat kita jadikan ukuran adalah peningkatan berat badan antar waktu hemodialisis tidak boleh melebihi 5% berat badan kering. Berat kering adalah berat badan setelah dialisis dimana seluruh atau sebagian cairan tubuh yang berlebihan telah dihilangkan.

PERUBAHAN HEMODINAMIKA CAIRAN PADA PASIEN HD REGULER

Pada pasien HD regular terjadi perubahan hemodinamik cairan dalam tubuh, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain :
1. Ketidakmampuan ginjal untuk mengeluarkan air dan zat terlarut seperti natrium, kalium, hidrogen sehingga menyebabkan kecenderungan terjadinya akumulasi cairan dan elektrolit dalam tubuh. Hal ini menyebabkan peninggian volume cairan di luar sel.
2. Malnutrisi karena masukan protein dan kalori yang rendah dan peningkatan katabolisme protein akibat asidosis sehingga terjadi penurunan berat badan di mana terjadi penurunan lemak dan otot tubuh disertai peninggian volume cairan di luar sel.
3. Keadaan anemia yang menyebabkan pembengkakan dan penebalan jantung serta gagal jantung yang mengakibatkan terjadinya penurunan aliran ginjal yang menyebabkan penahanan garam dan cairan.

Selama sesi hemodialisis, dua mekanisme yaitu difusi dan ultrafiltrasi digunakan untuk menurunkan racun ureum, penyesuaian elektrolit dalam darah dan pengeluaran cairan tubuh dari dalam sel. Pengisian kembali volume dalam pembuluh darah tergantung dari perpindahan cairan intertisium. Hal ini menyebabkan pada akhir hemodialisis terjadi keseimbangan cairan yang baru dalam tubuh. Penarikan yang berlebihan akan menyebabkan komplikasi seperti tekanan darah menurun, pusing, kram otot, gangguan pencernaan berupa mual muntah, telinga berdenging, berkeringat bahkan pingsan yang dapat menyebabkan penghentian prosedur hemodialisis.

Penulis : dr. Kristiana Fransisca

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s