Artikel Serius

SEMUA MAU JADI ARTIS

“Satu hal yang baik saat usia mulai tua adalah ketika anda mulai merasa lebih menarik daripada orang-orang yang anda jumpai”

Lee Marvin, Aktor –

(1924-1987)

Keinginan menjadi terkenal dan dikagumi banyak orang agaknya memang menjadi sifat dasar manusia. Siapapun ketika ditawari menjadi artis, kebanyakan orang tak menolak. Berbagai jalan untuk menjadi apa yang ada dalam cita-citanya akan selalu ditempuh oleh setiap anak manusia. Mulai dari jalan berliku hingga jalan panjang penuh duri menghadang akan tetap ditempuhnya. Akan tetapi jika jalan pendek tanpa halangan tersedia tentu akan menjadi pilihan utama.

Berbagai jalan singkat untuk menjadi orang terkenal dan dikagumi banyak orang kini seakan banyak disediakan oleh berbagai pihak. Stasiun televisi, merupakan fasilitator yang paling aktif menyediakan jalan singkat untuik menjadi artis beken. Hampir di tiap stasiun televisi saat ini ada bentuk kontes yang menjanjikan ketenaran.

Saat ini, acara “pengorbit artis” kian banyak jenisnya. Berawal dengan Akademi Fantasi Indosiar di tahun 2003 diikuti oleh Indonesian Idol. Setelah itu masih banyak lagi nama acara berbentuk kontes yang diselenggarakan oleh stasiun televisi. Tak hanya itu, bentuknya pun sangat beragam, mulai dari menyanyi, melawak hingga berdakwah.

Apa yang membuat acara kontes kian menjamur di televisi? Maraknya penayangan jenis tontonan tersebut, tidak lepas dari upaya stasiun TV untuk menyajikan acara yang lebih bervariasi. Di sisi lain karena tingginya keinginan sebagian masyarakat yang memiliki bakat menyanyi untuk menjadi idola atau penyanyi terkenal yang kelak bisa menghibur masyarakat.

Namun, kehidupan glamor dan mewah para artis bak magnet yang menarik banyak orang. Mereka yang tertarik rela melakukan apa saja untuk juga mengecapnya. Antusiasme masyarakat yang tinggi menjadi dasar yang kuat untuk acara sejenis terus digelar. Rating acara kontes yang tinggi pun seakan menjadi pengesahan kontes instan tersebut di budidayakan.

Minat yang tinggi bisa dilihat ketika audisi digelar. Antrian yang mengular panjang tak pernah absen menjadi pemandangan khas setiap seleksi calon peserta diselenggarakan. Isak tangis dan jerit histeris seakan menjadi warna yang juga kuat melekat dalam prosesi seleksi calon peserta. Siapa yang lolos menjerit histeris atau meneteskan air mata kebahagiaan. Namun, sebaliknya bagi mereka yang tak lolos, tangis kesedihan tumpah diiringi ketegaran dalam dada. Bahkan, tak jarang sumpah serapah dilontarkan oleh para calon kontestan yang dinyatakan gagal.

Program pencarian bakat menyanyi selalu diserbu oleh calon peserta. Ini tidak lepas dari fasilitas yang ditawarkan oleh pengelola stasiun TV  bagi pemenangnya. Program ini memang menjanjikan bagi pemenangnya untuk menjadi bintang atau idola terkenal dengan cara instan (cepat). Hanya dengan mengukuti audisi dan berlaga selama lebih dari tiga bulan, seorang peserta bisa langsung tersohor dan menjadi penghibur masyarakat.

Para peserta juga akan memiliki pengalaman tampil dan berekspresi di layar TV dan  disaksikan jutaan pemirsa di  seluruh Indonesia. Tidak semua orang mempunyai kesempatan seperti ini secara cuma-cuma. Atau setidaknya, kata dia, peserta bisa terkenal, minimal di kalangan wilayah tempat tinggal,kerja atau sekolah.

Selain itu, dari sisi kemampuan, peserta bakal mendapat pelajaran olah vokal dan koreografi dari pengajar ternama secara gratis. Sementara orang lain yang ingin belajar pada mereka, harus membayar mahal untuk mendapat ilmu seperti itu.

Jadi pemenang dari persaingan sepertinya selalu memberikan kepuasan tersendiri. Banyak orang menjadi kontestan untuk sekedar unjuk kebolehan. Membuktikan dirinya bisa bersaing dengan orang lain dalam bidang yang dimilikinya.

“Aku pengen buktiin bahwa pengamen juga bisa bersaing dalam acara ini,” ujar Riko, kontestan Indonesian Idol yang berlatar belakang pengamen di Ibukota. Riko juga ingin menjadi penyanyi profesional yang telah lama dicita-citakannya.

“Senang sekali waktu aku terpilih. Dari ribuan orang yang ikut audisi aku terpilih untuk tampil dalam 12 besar, ini kan jadi prestasi tersendiri,” ungkap Pasha Dina Wijaya yang lebih dikenal sebagai Pasha AFI tentang kemenangannya di tingkat lokal.

Wajar ataupun berlebihan menjadi penilaian relatif pemirsa televisi yang menyaksikan acara tersebut. Banyak harapan yang ditanamkan oleh para peminat kontes pada acara kontes tersebut. Namun jelas, menjadi orang terkenal menjadi harapan yang amat tinggi bagi para calon peserta. Hadiah berupa kontrak kerja, dibuatkan album hingga mobil yang dijanjikan pun menjadi faktor pendukung mereka begitu antusias mengikuti acara tersebut.

Jiplakan Dan Subjektif

Negara barat selayaknya kiblat, tren disana sudah barang tentu tak asing menjadi sumber jiplakan bangsa kita. Begitu juga dengan program TV yang disajikan untuk masyarakat kita. Kebanyakan dari bentuk dan konsep program jenis ini dijiplak dari luar negeri. Sayangnya, pengadopsi show tersebut tidak pandai membaca lingkungan sekitarnya. kondisi masyarakat di negara ini berbeda dengan negara dimana program itu berasal.

“Program ini kebanyakan meniru acara yang sama di barat,” ucap Deddy santai. “Tapi, kondisinya berbeda. Kalau di barat, let say di Amerika, kalau tidak punya kemampuan akan habis. Sedangkan disini orang dengan tanpa kemampuan pun bisa masuk. Supaya jadi artis dengan cepat,” tambahnya lagi.

Tak dapat dinafikan acara kontes televisi tersebut membuka peluang untuk orang yang berbakat di bidangnya. Bakat mereka terasah lewat festival dan lomba tingkat lokal hingga nasional sebelumnya. Namun, tak jarang juga orang yang hanya memiliki modal tanpa kemampuan yang mumpuni bisa keluar sebagai pemenang. Ini terjadi karena proses penjurian dilakukan dengan mengakumulasi pesan pendek yang dikirim oleh masyarakat.

Penilaian subjektif yang rentan terjadi dengan sistem penilaian ini. Siapapun bisa mendukung orang yang diinginkannya, terlebih orang terdekatnya yang sedang berada di atas panggung.

“Gak bisa dipungkiri, keluarga dan teman-temanku memang ikut dukung lewat sms. Namanya orangtua akan habis-habisan dukung anaknya yang sudah bersusah payah untuk bisa berada di atas panggung kontes,” papar Pasha yang ditemui di kampusnya di daerah Jakarta Barat. Mahasiswi jurusan psikologi ini pun mengungkapkan susah payah menyisihkan ribuan orang untuk bisa pentas di AFI menjadi alasan orang terdekat mendukungnya.

Lain lagi dengan penonton yang sudah kadung cinta pada acara selebritis instan. Icha dan kedua kawannya misalkan. Mereka menilai acara yang menjadi acara wajib mereka sudah sangat objektif.

“Acara kontes sekarang lebih objektif dibanding dulu. Jurinya orang-orang yang ada didalam studio saja. Mereka kan lebih tahu kemampuan pesertanya karena mereka melihat langsung,” papar Icha yang sengaja datang dari Cirebon untuk melihat langsung program kontes favoritnya di waktu libur sekolah.

Akan tetapi, Deddy menganggap penilaian yang berlaku hanya menjadi permainan semata. “Penilaian program kontes di TV tersebut sangat subjektif. Juri selaku penilainya tidak jelas. Baik menggunakan sms ataupun melibatkan orang yang ada di dalam tempat acara, menjadikannya hanyalah sebuah permainan,” tandas pemeran Jendral Naga Bonar.

Penyakit Sosial

Beragam alasan yang diungkapkan orang yang mengikuti acara kontes pengorbit seleb. Namun Deddy Mizwar, Artis Senior melihat ini merupakan pelarian masyarakat dari peliknya menjalani kehidupan. “Ini merupakan kecenderungan psikologis yang ada di masyarakat. Ketika kesulitan menghadapi tekanan-tekanan ekonomi dan sosial mereka akan mencari jalan pintas,” ujarnya. “Hasrat menjadi cepat kaya dan populer masyarakat tak bisa dibendung lagi,” tandasnya lagi.

Antusiasme masyarakat pada apa pun yang bisa mewujudkan harapannya menjadi kaya dan populer kian tinggi. Kondisi sulit yang ada di masyarakat merupakan biang keladinya. Tekanan untuk terus bertahan hidup memaksa orang agar mencari jalan meraup banyak uang dengan kerja yang ringan. Hal-hal tersebut yang membuat acara pengkarbit seleb tumbuh subur dan langgeng.

Lebih jauh deddy menilai kondisi ekonomi dan sosial masyarakat membuatnya mereka tak lagi berpikir sehat. “ini sebagai potret wajah masyarakat kita. Tekanan ekonomi dan kejiawaan yang kritis menyebabkan ruang-ruang itu (kontes TV, red) tumbuh subur. Persaingan yang luar biasa di dalamnya membuat peserta dalam acara tersebut sakit jiwa,” ungkapnya.

Didi Petet menilai saat ini sudah seharusnya ada pencerdasan untuk masyarakat. Ia berpendapat demikian agar tak ada lagi pembodohan yang dilakukan secara terang-terangan. Karena selama ini kebanyakan masyarakat menganggap TV sebagai ‘guru’ yang wajib diteladani.

Reformasi informasi yang dikemas dalam program suguhan untuk masyarakat sudah waktunya dilakukan. Standar kualitas perlu ditingkatkan agar tak banyak lagi yang dirugikan. Sudah seharusnya televisi menyajikan acara yang tidak membuat pemirsanya hanya melambung jauh.

Namun, pemerintah selaku pemangku kebijakan juga harus turut andil mengemban tugas ini. Begitu juga dengan masyarakat sendiri. Mereka harus lebih selektif lagi memilih suguhan yang akan mereka nikmati. Realita sosial yang ada di masyarakat haruslah menjadi pertimbangan atas apa yang akan ditampilkan. Menyajikan hal yang bersifat mendidik masyarakat di tengah kesulitan ekonomi dan sosial agaknya harus lebih menjadi prioritas.

Denny Mahardy

Pernah dimuat di Majalah Didaktika edisi 36

Iklan

3 thoughts on “SEMUA MAU JADI ARTIS

  1. tapi belakangan pihak penyelenggaranya (TV) juga kebingungan menyalurkan para artis dadakan ini. mencarikan order dan memanajemeni mereka. banyak dari artis ini yang akhirnya hanya menanggung utang hasil dari jor-joran sms.
    ketik reg spasi c. cape deh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s