Artikel Serius

Mengharapkan Evolusi Polisi

Enam puluh dua tahun sudah polisi hadir di tengah masyarakat Indonesia. Lembaga pemilik jargon “melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat” ini belakangan kembali menjadi sorotan. Pandangan miring masyarakat terhadap aparat berbaju cokelat ini masih melekat kental. Berbagai catatan buruk tindakan para anggotanya kembali mengemuka.
Entah sejak berapa lama ketidakpercayaan masyarakat terukir kepada lembaga ini. Tidak dapat dipungkiri fakta di lapangan membentuk citra buruk polisi di tengah masyarakat. Seringkali para oknum tersebut melakukan transaksi “damai di tempat” yang terjadi di jalanan hingga kantor yang makin memperburuk citranya. Kekerasan pun tak jarang terjadi ketika polisi seharusnya menjadi penengah yang bijaksana di berbagai momen.
Langkah sendiri yang sering dilakukan masyarakat tak jarang hadir karena mereka enggan untuk meminta bantuan kepada pihak kepolisian. Proses berbelit yang harus dijalani bahkan mengeluarkan dana yang besar. Selain itu, polisi seringkali terlihat tak berkutik ketika menghadapi pertikaian ideologi ataupun agama. Kasus Ambon, maupun tragedi Monas menjadi contoh konkrit dari ketidakberdayaannya. Mereka seakan kebingungan dengan langkah yang harus diambil di lapangan.
Saat ini, banyak sekali kejahatan yang melibatkan anggota kepolisian, baik sebagai dalang ataupun aktornya. Hal seperti ini tidak semestinya terjadi. Anggota kepolisian merupakan teladan penegak hukum yang harus disegani masyarakat, bukan malahan menjadi penjahat berseragam yang kebal hukum. Sikap tegas yang diperlihatkan tak harus diiringi dengan kekerasan yang berlebihan dan sewenang-wenang.
Ironisnya, lembaga penegak hukum ini masih belum bebas korupsi. Pada tahun 2007 skor 4,2 “berhasil” diraih oleh kepolisian Indonesia, lebih tinggi dari parpol atau pengadilan. Membuat kepolisian menjadi instansi paling korup dari 14 instansi yang diteliti oleh Gallup International.
Kekerasan, kesewenangan hingga pemerasan yang kerap dilakukan oleh oknum anggotanya merusak citra kepolisian. Serangkaian catatan buruk kepolisian tersebut sejatinya tak lagi terjadi. Kepercayaan dan simpati rakyat kepada polisi sudah harus dibangun kembali dari sekarang. Bagaimanapun kepolisian adalah merupakan sosok lembaga terhormat di tengah masyarakat.
Sosok polisi sebagai sahabat masyarakat yang pernah dibangun oleh Polri layak mendapat acungan jempol. Evolusi menjadi civilian police atau polisi sipil di tengah sikap apatis masyarakat terhadap mereka merupakan langkah yang perlu diambil. Profesionalisme aparat kepolisian yang sudah selayaknya bertambah seiring bertambah usia lembaganya.
Sudah saatnya polisi memahami kembali fungsinya sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat sepenuhnya, bukan menjadi aparat pelindung pejabat keparat. Dirgahayu Polri.
Denny Mahardy

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s