Artikel Serius

MEMBANGUN DUNIA DENGAN UTANG

Krisis moneter yang terjadi di penghujung dekade 1990-an berimbas kepada banyak negara. Hampir semua negara di seluruh dunia merasakan hantaman krisis ekonomi tersebut. Dalam kondisi yang terpuruk secara finansial banyak negara yang memilih suntikan dana dari lembaga donor internasional. International Monetery Fund (IMF) dan World Bank (Bank Dunia) menjadi primadona yang sangatlah menarik. Lembaga donor tersebut amat diminati banyak negara untuk meminjam uang demi membawa negaranya keluar dari krisis berkepanjangan. Indonesia pun tak ketinggalan mengambil kesempatan menjadi negara penghutang.

Tak hanya IMF, Indonesia juga mendapat suntikan dana dari Bank Dunia utnuk mempercepat Indonesia keluar dari krisis keuangan. Dana pinjaman tersebut kemudian yang digunakan oleh pemerintahan Soeharto untuk membangun Indonesia dalam keterpurukan. Selain IMF dan Bank Dunia Indonesia juga menyandang dana pinjaman dari beberapa lembaga donor internasional, IGGI/CGI yang berasal dari Belanda untuk pembangunan infrastruktur, Asian Development Bank untuk membangun ekonomi nasional, dan dana dari Islamic Development Bank yang lembaga donor yang fokus pada bidang kesehatan dan pendidikan.

Utang dari lembaga donor tersebut memiliki bunga yang yang tidak sedikit. Jumlah utang Indonesia saat ini mencapai milyaran dollar amerika. Akibat dari utang luar negeri tersebut kurang lebih 30 persen APBN harus dialokasikan membayar bunga hutang tiap tahunnya, memangkas berbagai keperluan lainnya seperti pendidikan. Hal ini yang menjadikan Indonesia semakin tertinggal dalam pendidikan. Dana pendidikan yang dipangkas menjadikan pendidikan mahal dan tak bisa diakses oleh rakyat miskin yang merupakan mayoritas penduduk.

Semakin terperosoknya Indonesia ke dalam krisis membuat pemerintah Indonesia membawa negaranya juga terus masuk ke dalam lembah hutang. Mengemis kasih berbagai lembaga donor maupun negara maju untuk sudi memberikan pinjaman lunak ke negaranya menjadi penting. Pinjaman dikabulkan, sedangkan Indonesia semakin tidak memiliki posisi tawar di mata Internasional.

Pinjaman utang tentu tak diberikan secara cuma–cuma, “ada udang di balik batu” kata pepatah. Berbagai syarat dan permintaan yang menguntungkan pendonor mengiringi kucuran dana yang mengalir ke negara yang diberi pinjaman. Tak ayal negara peminjam tak punya pilihan selain untuk menuruti pemintaan negara maupun lembaga pendonor. Syarat yang bersifat mencampuri kebijakan pun tak dapat ditolak lagi.

Kepentingan bisnis perusahaan multinasional tak ketinggalan mengacak kebijakan dalam negeri. Bagaimana tidak, perusahaan multinasional dan perusahaan transnasional merupakan sumber dana dari lembaga donor internasional. Kebijakan yang belakangan ini dikeluarkan pemerintah disinyalir sebagai realisasi permintaan lembaga donor. Pencabutan subsidi di masyarakat agar perusahaan internasional bisa “bermain” di negara yang sebelumnya tidak bisa mereka masuki. Saat ini plang-plang berbagai perusahaan asing bisa kita lihat semakin banyak terpampang di tanah air.

Pemerintah tak lagi bisa membendung perusahaan asing yang turut bergerak di bidang kebutuhan dasar masyarakat. Ini juga merupakan dampak dari pinjaman yang diberikan. Perusahaan plat merah pun lambat laun semakin tersisih dalam persaingannya. Mereka harus berusaha mengimbangi kwalitas berbagai perusahaan bertaraf internasional tersebut.

Tak hanya Indonesia yang mengalami kemelut krisis yang berkepanjangan. Argentina pernah memilih dinyatakan bangkrut oleh bank dunia ketimbang membayar utangnya yang berlimpah ruah. Di Asia ada juga yang akhirnya bisa keluar dari kemelut krisis seperti Korea Selatan dan Malaysia. Namun, Indonesia masih belum mampu untuk keluar dari jerat hutang seperti Malaysia dan Korea Selatan. Akan tetapi, pemerintah pun tidak berani mengambil langkah pemutihan utang seperti Argentina dengan berbagai alasan. Seperti tak ingin kehilangan pamor pemerintah pun menolak ketika ditawarkan untuk penghapusan utang ketika bencana tsunami menghantam Aceh tahun 2004.

Bahkan Indonesia malah mengambil langkah membuka kembali rekening utang dari IMF yang sebelumnya sudah dinyatakan lunas. Jumlah utang terus ditambah dengan mengambil utang dari lembaga donor maupun negara maju. Jika ini terus terjadi maka Indonesia hanya akan menumpuk utang yang harus dibayarkan tanpa bisa keluar dari jeratnya.

Penulis: Denny Mahardy

Pernah Dimuat di Media Indonesia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s