Artikel Serius

KONTES TV, ANTARA RATING DAN ORIENTASI

Program pencarian bakat belakangan ini terus menerus diadakan oleh stasiun televisi. Berbagai bakat yang menjadi sasaran kompetisi yang digelar tersebut, dari menyanyi, kecerdasan hingga ajang kompetisi yang tak jelas orientasinya.

Persaingan stasiun televisi untuk merebut hati pemirsanya semakin ketat kian harinya. Beberapa tahun terakhir kontes pencarian bakat yang diselenggarakan oleh stasiun tv menjadi acara terfavorit. Program yang tampak murni Indonesia hingga yang terkait dengan negara lain pun merambahi dunia pertelevisian tanah air.

Program ajang pencarian bakat menyanyi akan terus mewarnai layar televisi di tanah Air. Saat ini, hampir semua stasiun TV memiliki program berbentuk variety show itu. Program berbentuk ajang adu bakat menjadi primadonanya acara di televisi.

Maraknya penayangan jenis tontonan tersebut, tidak lepas dari upaya stasiun TV untuk menyajikan acara yang lebih bervariasi. Di sisi lain karena tingginya keinginan sebagian masyarakat yang memiliki bakat menyanyi untuk menjadi idola atau penyanyi terkenal yang kelak bisa menghibur masyarakat.

Menjamurnya acara jenis pencari bakat ini tak bukan tak beralasan. Angka rating yang dihasilkan oleh acara jenis ini selalu tinggi dan dapat bertahan dengan rentang waktu yang panjang. Hal ini yang membuat stasiun televisi tak hentinya menggelar kontes di stasiunnya. Mamamia yang ditayangkan di Indosiar misalnya, acara ini bisa meraih rating 9 dari 10 poin dan bertahan berbulan-bulan lamanya (data dari A&C Nielsen- lembaga survei rating program media).

Melihat minat masyarakat yang tinggi akan kompetisi bakat tersebut membuat stasiun TV terus mereproduksi acara sejenis. Bahkan, ada yang menyelenggarakan acara kompetisi di setiap harinya dengan beragam judul acara yang memiliki format tak jauh berbeda. Seakan tak cukup sampai di situ, rentang waktu diputarnya acara ini sanagat panjang. Durasinya bisa sampai 4 sampai 7 jam lamanya.

Tak heran bila stasiun TV tak tanggung-tanggung menyediakan waktu yang panjang untuk acara ini. Banyak keuntungan yang bisa diraup sekaligus oleh stasiun TV sebagai penyelenggara. Rating yang tinggi tentu menarik minat banyak perusahaan untuk pasang iklan di waktu acara tersebut ditayangkan.

“Perusahaan ataupun produk yang akan ber-iklan selalu melihat rating sebagai rujukan jumlah pemirsa yang menikmatinya,” ungkap Chairul Fadillah, seorang staf Departemen Media Data di salah satu agency periklanan di Jakarta. Ia pun mengungkapkan tak sedikit produk yang tak segan mensponsori acara kontes TV yang cenderung memiliki rating tinggi.

“Tidak hanya rating, tapi siapa yang ada dalam acara itu juga mempengaruhi pemasangan iklan, juri ataupun bintang tamu juga berpengaruh,” ungkap Chairul lagi. “Lagipula kontes bakat memiliki sasaran pemirsa yang bebas. Semua umur bisa menontonnya, makanya gak heran kalau rating dan pemasangan iklannya tinggi,” lanjutnya.

Selain itu, konsep program ini bisa meraup untung dari penilaian pemirsa terhadap peserta. Lihat saja, kebanyakan program ini memberlakukan penilaian terbuka oleh pemirsanya. Sistem penilaian ini memanfaatkan layanan pesan singkat dan telepon dengan tarif premium. Ribuan hingga ratusan ribu setiap harinya orang mengirim dukungan untuk idolanya yang sedang berkompetisi.

Penyelenggara pun tak jarang mengulur waktu penentuan peserta yang lolos ke babak berikutnya. Tindakan ini dilakukan untuk mendulang untung lebih besar yang didapat dari penjurian peserta. Seakan ada target yang dihasilkan dari tiap peserta maupun edisi kontes. Bila targetnya terpenuhi baru kemudian prosesnya berlanjut namun sebaliknya, bila belum terpenuhi prosesnya akan terus diulur-ulur.

“Semakin panjang epsiodenya ya semakin banyak iklan maupun dukungan pemirsa yang masuk yang berarti menambah income yang dihasilkan sebuah program,” ungkap Chairul.

Sadar ataupun tidak sebenarnya langkah ini merugikan pemirsa yang setia pada peserta favoritnya. Namun, stasiun televisi sebagai industri tak segan melakukan hal ini terus menerus kepada pemirsanya yang sudah kadung mencintai ajang adu bakat ini.

Tidak Mendidik

Televisi sudah menjadi barang primer di tengah masyarakat. Maka program acara yang disajikannya haruslah sarat muatan positif. Ini penting karena mayoritas penduduk menjadikan televisi sebagai sumber informasi.

“Televisi mempunyai satu kekuatan yang amat penting, yaitu membentuk masyarakat,” ungkap Didi Petet, Dosen Teater di Institut Kesenian Jakarta sekaligus artis senior. “Sebagian masyarakat menjadikan televisi sebagai trendsetter. Apapun yang disuguhkan menjadi hal yang penting untuk ditiru,” tambahnya lagi.

Semakin menjamurnya acara selebritis instan di tengah masyarakat memang memiliki dampak baik. Motivasi untuk berusaha menjadi apa yang diinginkannya. Tak hanya itu, masyarakat juga tahu lebih banyak tentang teknik-teknik yang diperlukan dalam bidang yang diperlombakan.

“Masyarakat jadi tahu teknik menyanyi ataupun bidang lain dalam kompetisi tersebut. Selain itu, proses latihan dan keseharian yang ditampilkan memberi pengetahuan baru bagi masyarakat yang belum pernah terlibat.”

Pasha pun melihat seringnya acara tersebut digelar meningkatkan kemampuan para peminatnya. “Aku lihat kemampuan pesertanya semakin lebih berkualitas dibanding sebelumnya. Berarti masyarakat banyak belajar dari komentar para komentator,” ungkap Pasha.

Sayangnya, tidak hanya dampak positif yang ditimbulkan. Acara selebritis instan juga mempengaruhi psikologis masyarakat. Situasi sosial yang cenderung membuat orang untuk meraup uang dengan cara yang gampang. Berpikir mendapat hasil instan tanpa perlu banyak usaha akhirnya diyakini sebagai hal yang sah dilakukan.

Acara-acara yang sekarang beredar di dunia pertelevisian sudah terlampau banyak yang menyajikan tayangan hidup instan. Berpikir semuanya serba mudah digaungkan terus menerus oleh tayangan televisi.

Benny Panjaitan. Pentolan grup musik Panbers menolak keras menjamurnya artis “alumni” kontes TV. Ia menilai acara kontes idola yang banyak diselenggarakan TV menjadikan orang berpikir mudah menjadi artis. “Program seperti itu tidak mendidik. Orang jadi berpikir menjadi bintang itu mudah, instant,”ungkapnya.

Hal yang senada diungkapkan oleh Deddy Mizwar. “Acara yang mengusung selebriti instan hanyalah menjadi ajang penghinaan yang tidak mendidik,” katanya yang berhasil ditemui di sela kegiatannya.

Peserta anak-anak yang terpaksa harus menyanyikan lagu orang dewasa juga menjadi salah satu dampak buruk. Psikologi anak-anak yang menontonnya menjadi dipaksa mengenal kata-kata dan aktivitas orang dewasa. Lagu dengan lirik tentang percintaan yang belum ada dalam dunia mereka tak dapat dihindari untuk mengakrabinya. Hal ini menjadikan anak karbitan semakin banyak.

Kehilangan Orientasi

Program pencarian bakat menyanyi selalu diserbu oleh calon peserta. Ini tidak lepas dari fasilitas yang ditawarkan oleh pengelola stasiun TV  bagi pemenangnya. Program ini memang menjanjikan bagi pemenangnya untuk menjadi bintang atau idola terkenal dengan cara instan (cepat). Hanya dengan mengikuti audisi dan berlaga selama lebih dari tiga bulan, seorang peserta bisa langsung tersohor dan menjadi penghibur masyarakat.

Bila kita melihat ke belakang, acara kontes di televisi memang pernah muncul pada tahun ‘90-an. Asia Bagus, sebuah ajang kompetisi pencari bakat menyanyi se-Asia yang melahirkan banyak entertainer saat ini. Sebut saja Krisdayanti dan Siti Nurhaliza, keduanya merupakan mantan peserta dalam acara tersebut. Siapa yang tak mengenal mereka, para penyanyi yang namanya sudah melanglangbuana di mancanegara.

Namun, tak begitu dengan hasil kontes yang di selenggarakan oleh televisi saat ini. Walaupun menjanjikan hadiah yang menggiurkan dan juga ketenaran ternyata tak sepenuhnya didapat peserta kontes. Wajah-wajah peserta yang biasanya muncul di televisi dalam program kontes kini tak lagi terlihat tidak lama setelah edisinya selesai. Layaknya pedas akibat memakan sambal, sebentar terasa kemudian hilang kembali dan dilupakan begitu saja.

Ini diamini oleh Didi Petet yang ditemui di sela waktu istirahat syuting. “Program kontes itu jangan dianggap memiliki prospek yang panjang. Ini hanyalah short term, hanya sebagai hiburan sesaat,” ungkapnya. Ia meyakini artis yang lahir dari ajang adu bakat juga tak banyak yang akan bertahan. “Kalau ada juga hanya satu, dua. Selebihnya ngilang lagi,” paparnya lagi.

Memang, realitanya artis hasil karbitan tersebut kebanyakan tenggelam setelah edisi kontesnya berakhir. Pun ada mereka bertahan bukanlah karena stasiun TV penyelenggara kontes tersebut melainkan usaha yang dilakukannya.

“Kebanyakan dari kontestan acara pencari bakat itu gak bertahan di dunia entertain. kalaupun ada itu hasil usaha mereka, T2 misalnya,” ungkap Pasha. Duo grup Tiwi dan Tika memang alumnus kontes yang bisa eksis di dunia hiburan. Namun, alumnus ajang pencari bakat tersebut yang tak lagi terdengar lagi kabarnya jauh lebih banyak. Popularitas mereka hanya sebatas ketika programnya berlangsung. Bahkan, kebanyakan sang juaranya sekalipun hilang bagai ditelan bumi setelah dieskploitasi oleh program ini.

Persaingan yang kian ketat harus memaksa orang yang berkecimpung di dapur produksi untuk terus menarik hati pemirsanya. Sejak tenar kembali di tahun 2003 bentuk kontes ini terus semakin berkembang. Kompetisi menyanyi saja yang semula bermunculan pada awalnya.

Tingginya perhatian pemirsa akan acara  reality show ini tidak lepas dari unsur realita di masyarakat yang menginginkan tampil di layar kaca. Program pencarian bakat terus bertambah bentuknya. Berbagai inovasi dilakukan untuk menarik minat pemirsanya. Salah satunya dengan mengkolaborasi antara anak dan ibu atau ayahnya. Hingga kontes menyanyi yang lebih banyak diisi candaan dan kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan acara intinya.

“Acara pencari bakat sekarang memang agak lebih aneh. Berbeda dengan AFI, Indonesian Idol dan KDI atau acara sejenis yang memang mengadu bakat pesertanya dalam satu bidang,” ungkap Pasha AFI. “Aku sendiri gak tau orientasinya apa. Soalnya kontesnya nyanyi tapi banyak aktivitas lainnya yang gak nyambung sama nyanyi,” imbunya lagi.

Durasi yang panjang membuat orang lupa waktu. Bisnis televisi membuatnya sah saja dilakukan, asalkan meraih rating tinggi dan iklan yang banyak. Tak perlu sarat dengan muatan positif yang terpenting orang mau menonton dan tak absen untuk menonton.

“Aku gak pernah absen nonton acara Mamamia, kalo kelewat rasanya ada yang kurang gitu,” ungkap Icha, seorang siswa kelas 3 SMA Cirebon. Ia sengaja datang untuk menonton acara favoritnya secara langsung. Ia tak merasa kebosanan dengan durasi panjang yang disuguhkan. “Kan pembawa acaranya lucu sih,jadi gak jenuh,” lanjutnya.

Akan tetapi, icha dan kedua kawannya tak memungkiri jika acaranya tersebut terkadang mengekspos hal-hal yang tak perlu. “Emang gak perlu sih ledek-ledekkan waktu acaranya berlangsung. Tapi, karena ledekannya lucu itu yang bikin betah,” tandasnya.

Akibat dari seringnya dilakukan kegiatan tersebut membuatnya seakan menjadi ‘bumbu’ yang wajib ada dalam acara adu bakat. Layaknya aturan baru dalam program adu bakat, semua acara jenis ini tak absen untuk melakukannya.

“Ada yang menjadi norma baru dalam acara kontes TV. Yakni ledek-ledekkan yang seakan menjadi sah dilihat oleh khalayak. Ini yang menjadikan kontes adu bakat semakin tidak berbobot,” ungkap Didi Petet, salah satu artis senior tanah air. Didi pun menganggap ledekkan ataupun tambahan lainnya (kirim salam, red) dalam acara itu membuat masyarakat akan semakin cepat jenuh dan akhirnya meninggalkannya.

Eksploitasi kehidupan peserta tak luput dari sasaran. Seringkali juri dan host dalam acara pencarian bakat kerap menghakimi peserta. Juri dan pembawa acara mengeksploitasi kesedihan para peserta dengan pertayaan-pertayaan yang menyudutkan. Pertanyaan dan tekanan dilontarkan sehingga peserta terpancing untuk mengungkapkan secara lebih dalam mengenai kehidupan pribadinya. Akirnya, peserta secara terbuka mengungkapkan kehidupan pribadi mereka. Hal tabu yang semestinya tidak boleh diungkapkan dan dikonsumsi publik atau pemirsa.

Deddy Mizwar, Pemeran Jendral Naga Bonar menganggap ini merupakan sebuah penyakit. “Persaingan yang berat di dalam kontes tersebut membuat pesertanya ‘sakit jiwa’. Melakukan apa saja agar bisa menjadi artis dengan cepat!” ungkapnya.

Memaksa peserta ‘curhat’ di depan kamera dilakukan agar menyentuh perasaan pemirsa. Jika pemirsa tersentuh akan cerita kehidupan peserta selanjutnya mereka akan mengirim dukungan baik lewat sms ataupun premium call.

“Eksploitasi keseharian dan kisah hidup peserta selalu ada di ajang adu bakat saat ini. Secara esensi ini tak perlu dilakukan karena gak ada kaitannya dengan bakat yang dilombakan. Tapi stasiun TV membuatnya sah saja untuk menarik simpati pemirsa terhadap peserta lalu mengirim dukungannya,” papar Didi Petet yang dikenal juga sebagai pemeran Kabayan di era 90-an.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menganggap ini merupakan pelanggaran. Akan tetapi kegiatan ini masih terus berlaku walaupun KPI pernah menegur beberapa tayangan kontes berkaitan pelanggaran ini. Namun, hingga saat ini teguran yang tiidak di indahkan tersebut juga tak menuai sanksi.

Didi Petet menanggapi hal ini takkan ada tindak lanjutnya. Teguran hanya sebatas melayangkan surat maupun mendatangi stasiun televisi sebagai penyelenggara yang melanggar aturannya. Sayangnya sanksi tidak akan pernah dianugerahkan kepada pelanggar tersebut.

Stasiun televisi sebagai industri saat ini memang akan terus berusaha meraup keuntungan dengan cara apapun. Ajang adu bakat ataupun program lain yang tak memiliki esensi yang jelas bagi mereka halal saja ditayangkan asalkan bisa menghasilkan untung besar.

Bisnis televisi yang kemudian menghalalkan berbagai cara. Meraup keuntungan dari kontestan ajang adu bakat maupun pemirsanya. Mulai dari memaksa orang ‘menelanjangi dirinya’ didepan kamera, pengerukan keuntungan dari pemirsanya dengan berbagai iming-iming menggiurkan, hingga ditayangkannya berbagai acara yang berdampak buruk terhadap pemirsanya. Ini harus diatur dengan tegas agar masyarakat yang notabene sebagai pemirsa televisi tidak terjerumus pada kerugian materi dan psikologis.

Denny Mahardy

Pernah dimuat pada Majalah Didaktika Edisi 36

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s